OCD: Bukan Sekadar Perilaku Berulang!

 


Catatan Penulis: Tulisan ini untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Psikologi Abnormal (Shanandra Allysa S_21104241047)

  Obesessive Compulsions Disorder (OCD) merupakan salah satu gangguan psikologis klinis yang dapat menyerang siapapun. ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan (distress). Obsesi merupakan bentuk dari patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang melekat dan tidak dapat ditentang serta sulit untuk dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika, yang disertai dengan kecemasan. Sedangkan kompulsi adalah kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls yang jika ditahan menyebabkan kecemasan.

    Alasan saya membahas topik ini, dikarenakan masih banyak yang belum memiliki pengetahuan mengenai OCD ini, kebanyakan orang awam beranggapan bahwa OCD hanya sebatas seseorang yang kehilangan kontrol diri sehingga melakukan perilaku yang berulang dan tidak jarang di beri cap "gila" oleh sebagian orang. Dewasa ini, OCD  "kalah pamor" dengan topik kecemasan dan depresi. Hal ini menjadi masuk akal mengingat potensi manusia yang terkena OCD tidak sebanyak penderita anxiety ataupun depresi. Saya hendak memberikan pemahaman mengenai gangguan ini sehingga lebih banyak orang yang tidak lagi memandang "aneh" penderita OCD.

    Dalam Nevid (2017) dijelaskan bahwa kerentanan terhadap OCD sebagian ditentukan oleh faktor genetik. Gen tertentu mempengaruhi keseimbangan kimia di otak dan menyebabkan terjadinya "over arousal" atau peningkatan gairah untuk melakukan sesuatu. Sedangkan kompulsi dapat terjadi dikarenakan adanya kelainan pada sistem kerja otak yang menyebabkan seorang individu melakukan kegiatan secara berulang kali. Adapun faktor kognitif lain yang terkait dengan perkembangan OCD adalah perfeksionisme, atau keyakinan bahwa seseorang harus tampil sempurna. Penderita akan selalu merasa kurang dalam melakukan suatu pekerjaan sehingga ia akan mengulanginya secara terus menerus hingga dirasa sudah sesuai dengan "standar" yang diinginkan.

    Berikut tabel yang dikutip dari Nevid (2017) mengenai contoh dari perbedaan perilaku antara obsesi dengan kompulsi.
    Terapi yang biasa digunakan oleh para profesional kepada penderita OCD antara lain dengan terapi obat, ERP (Exposure and Response Prevention). ERP merupakan salah satu metode terapi yang mendorong penderita untuk menghadapi ketakutannya dan membiarkan pikiran obsesif muncul tanpa 'memperbaikinya' atau 'menetralkan' mereka dengan kompulsi. Sedangkan untuk terapi obat dapat dilakukan oleh psikiater yang telah berkompeten dengan dosis yang disesuaikan dengan kondisi penderita. Adapun psikolog, konselor ataupun guru BK tidak memiliki kemampuan lebih untuk menangani OCD dengan tindakan klinis. Namun tetap dapat membantu penderita dengan melakukan kolaborasi dengan pihak eksternal seperti halnya psikiater, orang terdekat klien untuk memudahkan dalam mengenali tindakan yang mungkin dilakukan apabila terdapat kondisi yang penting dan mendesak.

Adapun contoh kasus dari perilaku OCD yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
  • Ketakutan akan terkontaminasi sesuatu (virus, bakteri, kotoran, dsb): Fontenelle & Miguel (2020) meneliti individu yang memiliki OCD pada saat terjadinya pandemi Covid 19. Seorang penderita OCD dapat menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan kemungkinan terkontaminasi virus, menghindari hal yang berpotensi untuk menularkan virus seperti mengurangi kontak sosial, atau bahkan melakukan perilaku mencuci atau membersihkan secara kompulsif seperti mandi terlalu lama atau mencuci tangan selama berjam-jam yang akan membahayakan kulit mereka.
  • Merapikan barang berulang kali: Seorang pelajar kembali masuk ke kamar untuk merapikan meja belajarnya. Dia selalu merapikan meja belajarnya berulang kali meski meja tersebut sudah rapi. Kakaknya membiarkan kebiasaan pelajar tersebut hingga kebiasaan itu mulai mengganggunya. Karena perilaku tersebut adiknya juga kerap terlambat datang ke sekolah, karena ia meminta sang kakak untuk berhenti di tengah perjalanan ke sekolah untuk kembali ke rumah, hanya untuk merapikan meja yang sudah rapi.
Berdasar kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa OCD memang merupakan perilaku berulang namun hal ini bukan sekadar pengulangan biasa. Penderita OCD terjebak di dalam lingkaran kegiatan berulang yang tidak putus. Apabila dibiarkan, penderita akan merasa semakin frustasi dan dapat memunculkan tindakan destruktif bagi dirinya ataupun orang di sekitarnya.

Kenal dan pahami gejala OCD, beri support bagi mereka yang mengalami tanpa menghakimi.

Referensi:

Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Greene, B. S. (2017). Abnormal psychology in a changing world (10th ed.). Pearson.

Banerjee, D. D. (2020). The other side of COVID-19: Impact on obsessive compulsive disorder (OCD) and hoarding. Psychiatry Research. https://doi.org/10.1016/j.psychres.2020.112966


https://grhasia.jogjaprov.go.id/berita/42/obsessivecompulsive-disorder-ocd

https://www.ocduk.org/overcoming-ocd/accessing-ocd-treatment/exposure-response-prevention/#:~:text=Exposure%20and%20Response%20Prevention%2C%20commonly,'neutralising'%20them%20with%20compulsions.    

Komentar